Dari Dapur Tradisional ke Pasar Digital, Gudeg Hj. Yetty Perkuat Daya Saing UMKM

Berita, Kampus114 Views

Semarang – Perkembangan teknologi dan perubahan pola konsumsi masyarakat mendorong pelaku usaha kuliner tradisional untuk tidak hanya mempertahankan cita rasa, tetapi juga melakukan inovasi dalam proses produksi, pengemasan, hingga pemasaran. Peluang tersebut dimanfaatkan oleh Gudeg Yogyakarta Hj. Yetty, salah satu usaha kuliner khas Yogyakarta di Semarang, melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang berorientasi pada peningkatan kapasitas produksi dan perluasan pasar.

Gudeg Hj. Yetty selama ini dikenal dengan produk kuliner khas Yogyakarta yang mempertahankan cita rasa autentik melalui penggunaan bahan baku pilihan dan resep yang telah dipertahankan secara turun-temurun. Namun, perkembangan usaha menghadapi sejumlah tantangan, antara lain keterbatasan penyimpanan bahan baku, daya simpan produk yang relatif pendek, keterbatasan variasi produk kemasan, perlindungan merek, serta belum optimalnya pemanfaatan pemasaran digital.

Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini didapat melalui hibah Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemdiktisaintek. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang dan Universitas Setia Budi (USB) Surakarta dalam memberikan pendampingan dan penerapan inovasi bagi mitra UMKM. Kolaborasi lintas perguruan tinggi tersebut memadukan kompetensi dari berbagai bidang untuk mendukung penguatan usaha mitra secara lebih komprehensif.

Kegiatan dilaksanakan melalui pendekatan pendampingan, pelatihan, penerapan teknologi, serta evaluasi untuk membantu mitra mengembangkan usaha secara lebih berkelanjutan. Tim PkM melibatkan dosen dan mahasiswa dengan kompetensi di bidang Teknik Industri, hukum, dan Teknik Informatika, sehingga pendampingan dapat mencakup aspek produksi, legalitas usaha, hingga pemasaran digital.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah kapasitas penyimpanan bahan baku dan produk setengah jadi. Dapur produksi Gudeg Hj. Yetty di kawasan Tlogosari, Semarang, sebelumnya mengalami dampak banjir yang menyebabkan dua unit freezer mengalami kerusakan. Kondisi tersebut turut memengaruhi pengelolaan bahan baku dan kelancaran proses produksi.

Melalui kegiatan PkM, mitra mendapatkan dukungan teknologi penyimpanan berupa freezer yang dimanfaatkan untuk menjaga kualitas bahan baku dan produk setengah jadi. Penerapan peralatan tersebut diharapkan dapat mengurangi risiko kerusakan bahan serta membantu mitra mengatur proses produksi dengan lebih baik.

Tidak berhenti pada aspek produksi, program ini juga mendorong diversifikasi produk agar Gudeg Hj. Yetty tidak hanya bergantung pada penjualan menu siap santap. Tim PkM memberikan pelatihan dan pendampingan penggunaan vacuum chamber untuk menghasilkan produk dengan kemasan vakum.

Diversifikasi tersebut menghasilkan sejumlah produk yang dapat dikembangkan dalam bentuk kemasan, antara lain gudeg, krecek, ayam suwir, telur pindang, dan areh. Produk kemasan dengan metode vakum memiliki peluang untuk dipasarkan sebagai oleh-oleh maupun dikirim kepada konsumen di luar kota.

Transformasi juga dilakukan pada sisi pemasaran. Tim PkM memberikan pendampingan digital marketing agar mitra dapat memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana memperluas jangkauan konsumen. Salah satu hasil kegiatan tersebut adalah hadirnya Gudeg Hj. Yetty pada platform online food delivery, sehingga konsumen dapat melakukan pemesanan dengan lebih mudah melalui layanan pesan-antar.

Selain memperluas akses pasar, penguatan identitas usaha menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Mitra mendapatkan pendampingan dalam proses pendaftaran merek secara daring melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI). Perlindungan merek diharapkan dapat memperkuat identitas usaha sekaligus memberikan dasar yang lebih baik bagi pengembangan bisnis Gudeg Hj. Yetty dalam jangka panjang.

Rangkaian kegiatan tersebut mulai memberikan dampak terhadap perkembangan usaha mitra. Variasi produk yang semakin beragam, dukungan teknologi penyimpanan, serta pemanfaatan platform digital memberikan peluang bagi Gudeg Hj. Yetty untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.

Bagi UMKM kuliner tradisional, transformasi tidak selalu berarti meninggalkan cara dan nilai yang telah diwariskan. Sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperkuat proses bisnis tanpa menghilangkan karakter utama produk.

Pengalaman Gudeg Hj. Yetty menunjukkan bahwa pelestarian kuliner tradisional dan inovasi dapat berjalan secara bersamaan. Cita rasa khas tetap dipertahankan, sementara teknologi penyimpanan, diversifikasi produk, perlindungan merek, dan pemasaran digital dimanfaatkan untuk membuka peluang pasar yang lebih luas.

Dengan dukungan kolaborasi UNISSULA Semarang dan USB Surakarta, program PkM ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek bagi mitra, tetapi juga menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi dalam mendorong penguatan UMKM, penerapan hasil keilmuan, serta pengembangan potensi ekonomi lokal berbasis inovasi.