Kupas Strategi Pendidikan Islam Sultan Buton ke-29, Kabid LPKA Unissula Raih Gelar Doktor

Berita37 Views

Kiprah sumber daya manusia Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) kembali menorehkan prestasi akademik. Kepala Bidang Penalaran dan Penelitian Lembaga Pengembangan Kemahasiswaan dan Alumni (LPKA) Unissula, M Said Hidayatullah SPd SHum MPd, berhasil meraih gelar Doktor Pendidikan Agama Islam dari Universitas Wahid Hasyim Semarang dengan IPK 3,98.

Gelar doktor tersebut diraih setelah Said mempertahankan disertasinya berjudul Spiritual Values in Bula Malino: Reconstructing an Indigenous Paradigm for Contemporary Islamic Education dalam ujian doktor yang dilaksanakan pada Jumat (21/8/2026).

Penelitian tersebut mengkaji pemikiran Sultan Buton ke-29, Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin, melalui manuskrip Kabanti Bula Malino. Hasil penelitian tidak hanya mengungkap nilai-nilai spiritual Islam dalam manuskrip tersebut, tetapi juga merekonstruksinya menjadi paradigma pendidikan Islam berbasis kearifan lokal yang relevan dengan kebutuhan pendidikan kontemporer.

Kepala LPKA Unissula, Adi Fajar Putranto SE, menyampaikan apresiasi atas capaian akademik yang diraih Said. Menurutnya, prestasi tersebut menjadi bukti bahwa pengembangan kemahasiswaan di Unissula juga diperkuat oleh sumber daya manusia yang memiliki kapasitas akademik dan komitmen tinggi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.

Ia menilai Said merupakan salah satu kepala bidang yang memiliki dedikasi dan kinerja yang baik dalam menjalankan tugasnya, khususnya dalam mengembangkan penalaran dan penelitian mahasiswa.

“Beliau setiap hari aktif mendampingi dan mendorong mahasiswa untuk berkembang, khususnya dalam bidang penalaran dan penelitian. Prestasi akademik yang diraih ini tentu semakin memperkuat kapasitas beliau dalam menjalankan tugas di LPKA Unissula,” ujar Adi.

Menurutnya, capaian tersebut patut diapresiasi karena menunjukkan sinergi antara pengembangan kapasitas akademik dengan tugas kelembagaan dalam mendampingi mahasiswa. Ia berharap prestasi Said dapat menjadi inspirasi bagi sivitas akademika Unissula untuk terus meningkatkan kompetensi dan menghasilkan karya-karya yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dalam disertasinya, Said mengungkap nilai-nilai spiritual Islam yang terkandung dalam Kabanti Bula Malino sekaligus merekonstruksinya menjadi paradigma pendidikan Islam berbasis kearifan lokal yang relevan dengan kebutuhan pendidikan kontemporer.

Penelitian tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap berbagai persoalan moral yang masih terjadi di lingkungan pendidikan. Fenomena kekerasan seksual dan berbagai persoalan perilaku di lingkungan pendidikan menunjukkan bahwa penguasaan ilmu agama belum selalu berbanding lurus dengan terbentuknya kesadaran spiritual dan integritas moral apabila nilai-nilai keimanan belum terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari.

“Pendidikan Agama Islam tidak cukup hanya mentransfer pengetahuan keagamaan. Yang lebih utama adalah membangun kesadaran bertuhan, pengendalian diri, akhlak mulia, dan tanggung jawab sosial agar nilai-nilai agama benar-benar hidup dalam perilaku sehari-hari,” ujar Said.

Melalui pendekatan hermeneutika filosofis Hans-Georg Gadamer, penelitian tersebut menemukan bahwa Kabanti Bula Malino karya Sultan Buton ke-29 memuat prinsip-prinsip pendidikan Islam yang holistik. Nilai tersebut meliputi penguatan tauhid, penyucian jiwa (tazkiyatun nafs), pembentukan akhlak, kepedulian sosial, serta tanggung jawab terhadap alam.

Said menilai khazanah intelektual Islam Nusantara perlu dipandang bukan hanya sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan, tetapi juga sebagai sumber pengembangan ilmu pengetahuan. Kajian terhadap manuskrip karya ulama Nusantara, menurutnya, tidak semestinya berhenti pada dokumentasi dan pelestarian naskah, tetapi dapat dikembangkan menjadi sumber rekonstruksi konsep dan strategi pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.

Penelitian ini menghasilkan tiga kontribusi ilmiah utama. Pertama, merekonstruksi nilai-nilai spiritual Islam dari Kabanti Bula Malino menjadi paradigma pendidikan Islam yang kontekstual. Kedua, menawarkan kerangka konseptual penyusunan learning outcomes Pendidikan Agama Islam yang mengintegrasikan kompetensi akademik, spiritualitas, dan akhlak sebagai capaian pembelajaran yang utuh. Ketiga, memperluas pemahaman bahwa pengembangan strategi pendidikan Islam masa depan dapat dibangun melalui revitalisasi khazanah intelektual Islam Nusantara.

Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi akademisi, pengembang kurikulum, praktisi pendidikan, dan pengambil kebijakan dalam mengembangkan pendidikan Islam yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu melahirkan lulusan berkarakter, berintegritas, dan memiliki kesadaran spiritual yang kuat.

Sidang doktor Said dipromotori oleh Prof KH Mudzakkir Ali MA. Tim penguji Prof Dr Fatah Syukur MAg dari UIN Walisongo, Prof Dr Mahmutarom HR SH MH, Dr Iman Fadhilah SHI MSI, Dr Ghufron Hamzah SThI MSI, Dr Ifada Retno Ekaningrum MAg, dan Dr Sari Hernawati MPd.

Dengan capaian tersebut, M Said Hidayatullah semakin memperkuat kapasitas akademiknya sekaligus pengabdiannya dalam mendampingi mahasiswa Unissula. Prestasi ini diharapkan semakin mendorong lahirnya budaya akademik yang kuat, produktif, dan berorientasi pada peningkatan prestasi mahasiswa di lingkungan Unissula.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *