Fakultas Hukum (FH) Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang terus memperkuat program internasionalisasi sebagai bagian dari upaya meningkatkan daya saing lulusan di tingkat global. Komitmen tersebut disampaikan dalam Rapat Senat Terbuka dalam rangka pelepasan lulusan Sarjana (S1), Magister (S2) Ilmu Hukum, Magister (S2) Kenotariatan, dan Doktor (S3) Ilmu Hukum periode ke-98, Jumat (18/9/2026), di MAC Ballroom Semarang.
Dalam kegiatan tersebut, FH Unissula melepas sebanyak 460 lulusan dari berbagai jenjang pendidikan hukum, mulai dari program sarjana, magister, hingga doktor.
Dekan Fakultas Hukum Unissula, Prof. Dr. H. Jawade Hafidz, S.H., M.H., mengatakan internasionalisasi menjadi salah satu agenda yang terus diperkuat oleh fakultas. Menurutnya, lulusan tidak hanya dituntut memiliki kompetensi akademik, tetapi juga pengalaman dan wawasan yang mampu menunjang daya saing ketika terjun ke masyarakat.
“Terkait dengan internasionalisasi, kita sudah menetapkan untuk terus memperkuat pelaksanaan internasionalisasi. Lulusan yang dilepas hari ini, khususnya S1, kami tekankan untuk terus melanjutkan aktivitas dan meningkatkan kompetensinya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, FH Unissula juga memberikan fasilitas pendidikan profesi advokat secara gratis bagi 50 lulusan. Program tersebut menjadi salah satu bentuk komitmen fakultas dalam mempersiapkan lulusan menghadapi dunia praktik hukum.
“Kami menyediakan kuota sekitar 50 orang untuk mengikuti pendidikan advokat secara gratis atau free. Kalau membayar, biayanya sekitar Rp5,5 juta, tetapi fakultas mengambil keputusan untuk memberikan fasilitas ini secara gratis, nol rupiah, kepada 50 orang,” katanya.
Menurut Jawade, pendidikan tersebut penting karena menjadi salah satu tahapan yang harus ditempuh bagi lulusan yang ingin berkarier sebagai advokat.
Selain penguatan kompetensi profesi, FH Unissula juga telah memberikan kesempatan kepada mahasiswa berprestasi untuk mengikuti program study mobility di luar negeri. Sejumlah mahasiswa mendapatkan pengalaman akademik di Thailand dan Malaysia.
“Sebelum mereka lulus, kami juga sudah memfasilitasi kegiatan study mobility bagi beberapa mahasiswa berprestasi di Thailand dan Malaysia. Ada lulusan S1 yang sekarang ini memiliki pengalaman mengikuti study mobility selama satu bulan untuk belajar enam mata kuliah di Universiti Kebangsaan Malaysia,” jelasnya.
Program tersebut, lanjut dia, dirancang untuk memberikan pengalaman internasional sekaligus memperluas wawasan mahasiswa mengenai sistem pendidikan dan hukum di negara lain.
“Tujuannya adalah mempersiapkan mereka agar mampu memperkuat daya saing di tengah masyarakat,” imbuhnya.
Komitmen internasionalisasi FH Unissula juga diwujudkan melalui pengembangan kerja sama dengan berbagai institusi dan mitra dari sejumlah negara.
Jawade menyebut FH Unissula telah menjalin kerja sama internasional dengan sejumlah negara, di antaranya Somalia, Uganda, Yordania, Mesir, Maroko, Pakistan, dan Nigeria.
Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya FH Unissula memperluas jejaring akademik dan membuka lebih banyak peluang bagi mahasiswa maupun lulusan untuk memperoleh pengalaman serta wawasan internasional.
“Kami terus mendorong kerja sama internasional untuk memperkuat kualitas pendidikan dan mempersiapkan lulusan agar memiliki daya saing yang lebih luas,” tuturnya.
Ia menambahkan, pengalaman internasional yang diperoleh mahasiswa diharapkan dapat menjadi bekal ketika mereka memasuki dunia kerja maupun praktik hukum.
Dorong Lulusan Saling Menguatkan
Sementara itu, Jawade juga menyoroti keberhasilan lulusan program doktor yang dinilai telah menunjukkan kiprah di instansi masing-masing. Ia berharap keberhasilan tersebut dapat menjadi bagian dari ekosistem yang membantu lulusan FH Unissula dari jenjang pendidikan di bawahnya.
“Untuk lulusan program doktor, hampir 100 persen mereka sukses di instansinya masing-masing. Karena itu, kami menanamkan agar adik-adiknya dari lulusan S1 maupun S2 dapat direkrut karena sudah ada ikatan emosional sejak mereka belajar di fakultas,” ujarnya.
Menurutnya, jaringan alumni memiliki peran penting dalam memperkuat kontribusi lulusan hukum di berbagai bidang. Lulusan diharapkan tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan ruang kontribusi dan membuka kesempatan bagi lulusan lainnya.
Jawade juga berpesan agar para lulusan tetap mengedepankan nilai kemanusiaan dan keadilan dalam menjalankan profesi hukum.
Ia mengingatkan bahwa latar belakang perguruan tinggi bukan satu-satunya penentu keberhasilan seseorang. Hal yang lebih penting adalah seberapa besar kompetensi yang dimiliki dan seberapa serius lulusan menerapkan ilmu hukum yang diperoleh selama menempuh pendidikan.
“Pada dasarnya semua orang itu sama. Lulusan dari berbagai institusi, baik negeri maupun swasta, menempuh jalur pendidikan. Yang menjadi penentu adalah seberapa besar muatan yang kita miliki dan seberapa serius kita mempraktikkan hukum yang kita dapatkan dari bangku kuliah dan berbagai referensi yang kita baca, dengan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan,” katanya.
Ia pun mengajak para lulusan untuk tetap optimistis dalam menghadapi dunia kerja dan praktik hukum. Menurutnya, generasi muda hukum memiliki peran dalam mendorong perbaikan penegakan dan praktik hukum di masa mendatang.
“Jangan pernah pesimis. Kita harus melihat ke depan dengan penuh optimisme. Kita harus menjadi pionir, inspirator, dan leader. Dengan begitu, cepat atau lambat, penegakan hukum dan praktik hukum akan mengalami perbaikan satu demi satu,” pungkasnya.







