Dosen Fakultas Teknik Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) memperkenalkan sejumlah inovasi adaptasi perubahan iklim dalam forum internasional ClimateCafé di Hanze University of Applied Sciences, Groningen, Belanda. Inovasi yang dipresentasikan meliputi teknologi penanganan banjir dan kekeringan, rumah apung, serta solusi berbasis alam yang didukung kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Kegiatan ini berlangsung dalam rangkaian kunjungan delegasi Unissula pada 26–30 Oktober 2026, dengan agenda utama ClimateCafé pada 28–30 Oktober.
Delegasi Unissula terdiri atas Ketua Program Studi Doktor Teknik Sipil Prof Dr Ir S Imam Wahyudi DEA, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Prof Dr Ir Henny Pratiwi Adi ST MT IPU, Wakil Dekan I Fakultas Teknik Ir Ari Sentani ST MSc MPM, serta Raden Mas Kusuma Dilaga dari Office of International Affairs (OIA) Unissula.
Dalam forum tersebut, delegasi Unissula memaparkan kontribusi perguruan tinggi dalam membantu masyarakat menghadapi perubahan iklim. Materi yang disampaikan menggabungkan pendekatan rekayasa infrastruktur, pelestarian lingkungan, dan pemanfaatan teknologi. Paparan ini sekaligus membuka ruang diskusi mengenai penggunaan data dan inovasi untuk mendukung pengambilan keputusan dalam pengelolaan lingkungan.
Menurut publikasi resmi Hanze University of Applied Sciences, ClimateCafé tahun ini mempertemukan sekitar 75 peserta dari delapan negara, yaitu Belanda, Denmark, Polandia, Inggris, Portugal, Latvia, Indonesia, dan Filipina. Peserta berasal dari kalangan peneliti, mahasiswa, profesional, dan pembuat kebijakan. Mereka berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam menghadapi persoalan air, kekeringan, serta peningkatan suhu di kawasan perkotaan.
Keikutsertaan delegasi Unissula menjadi kesempatan untuk memperkenalkan hasil penelitian dan inovasi perguruan tinggi Indonesia di tengah komunitas akademik internasional. Melalui forum tersebut, dosen Fakultas Teknik Unissula bertukar pengalaman dengan ilmuwan dan praktisi dari berbagai negara. Pertemuan ini juga membuka peluang pengembangan jejaring dan kolaborasi penelitian lintas negara.
Salah satu inovasi yang dipresentasikan adalah teknologi bak berangkai untuk menghadapi banjir dan kekeringan. Teknologi ini memanfaatkan unit-unit bak yang dapat dirangkai sesuai kebutuhan sebagai penahan dan pengatur aliran air. Berdasarkan uraian invensi yang dipublikasikan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, konstruksi tersebut dirancang agar dapat dibongkar-pasang. Pemanfaatannya mencakup tanggul darurat maupun bahan bendung untuk menampung air saat kekeringan.
Delegasi juga memperkenalkan floating house atau rumah apung dengan platform berbahan beton. Inovasi ini menawarkan alternatif hunian adaptif bagi kawasan yang menghadapi risiko genangan dan perubahan muka air. Konsep rumah apung memungkinkan bangunan menyesuaikan posisinya terhadap kondisi air. Pengembangan teknologi tersebut menjadi salah satu pendekatan rekayasa untuk mendukung ketahanan hunian di wilayah rawan banjir.
Inovasi berikutnya adalah penerapan Nature-based Solutions (NbS) atau solusi berbasis alam yang didukung kecerdasan buatan melalui Bahurekso Living Laboratory. Pendekatan ini menghubungkan upaya adaptasi perubahan iklim dengan pemanfaatan fungsi ekosistem dan teknologi analisis data. Tujuannya adalah mengembangkan solusi yang mempertimbangkan kondisi lingkungan sekaligus kebutuhan masyarakat.
Dalam penerapannya, AI dapat membantu mengolah data lingkungan, mengenali pola perubahan, dan membandingkan berbagai alternatif penanganan. Hasil analisis tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan intervensi berbasis alam yang sesuai dengan karakteristik wilayah. Melalui Bahurekso Living Laboratory, pendekatan ini dikembangkan sebagai ruang yang mempertemukan kegiatan penelitian dengan kebutuhan penerapan solusi di lapangan.
Agenda ClimateCafé juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk mempelajari penerapan solusi adaptasi iklim secara langsung. Kegiatan tidak hanya berisi presentasi dan lokakarya, tetapi juga kunjungan ke fasilitas uji adaptasi iklim. Pada 30 Oktober, peserta dijadwalkan menelusuri sejumlah contoh solusi berbasis alam dan infrastruktur hijau-biru di Groningen. Kegiatan ini membantu menghubungkan diskusi akademik dengan praktik pengelolaan lingkungan di kawasan perkotaan.
Bagi delegasi Unissula, pertemuan dengan peserta dari berbagai negara menjadi peluang untuk menjajaki penelitian bersama. Pertukaran pengalaman dapat mempertemukan keahlian yang saling melengkapi, sekaligus membuka kesempatan untuk mengembangkan metode dan pengujian teknologi adaptasi iklim. Jejaring tersebut diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui kolaborasi akademik yang berkelanjutan.
Partisipasi dalam ClimateCafé merupakan bagian dari upaya Unissula memperluas pengakuan internasional sebagai World Class Islamic University. Kehadiran dosen Fakultas Teknik dalam forum ini menjadi sarana memperkenalkan kapasitas penelitian dan inovasi Unissula kepada komunitas akademik global. Selain memperluas jejaring, kegiatan ini juga membuka peluang kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab tantangan perubahan iklim.
Bagi Unissula, reputasi internasional perlu dibangun melalui kualitas pendidikan, penelitian, dan kerja sama yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Pengalaman di Groningen menjadi salah satu langkah untuk memperluas kolaborasi dan mengembangkan solusi adaptasi iklim. Dengan demikian, penguatan jejaring global dapat berjalan seiring dengan tanggung jawab keilmuan dalam menjaga lingkungan dan melindungi kehidupan masyarakat.







