Dua Mahasiswa Doktor Teknik Sipil Unissula Pelajari Teknologi Tata Kelola Air di VIA University College Denmark

Berita61 Views

Mahasiswa Program Doktor Teknik Sipil (PDTS) Unissula mempelajari teknologi adaptasi banjir dan pengelolaan air di Denmark. Pembelajaran berlangsung pada 19–20 Oktober 2026 melalui diskusi akademik dan kunjungan lapangan. Rombongan mengamati penerapan infrastruktur yang dirancang untuk menghadapi genangan, mengelola air hujan, dan melindungi kawasan pesisir.

Rombongan terdiri atas Ari Sentani dan Yulia Indriani, mahasiswa PDTS Unissula, serta Rahmatia Sarah Wahyudi sebagai asisten riset. Sejumlah lokasi yang dikunjungi meliputi VIA University College di Horsens, Climate Road di Hedensted, dan beberapa lokasi pembelajaran di Lemvig. Kegiatan ini memberikan gambaran tentang penerapan riset teknik sipil untuk menjawab tantangan perubahan iklim dan pengelolaan sumber daya air.

Di VIA University College, rombongan mengikuti diskusi akademik dan mengenal kegiatan penelitian terkait adaptasi iklim. Bidang kajiannya mencakup pengelolaan air permukaan, air tanah dangkal, dan penanganan air hujan secara lokal. Salah satu contoh riset terapan yang dipelajari adalah Climate Road atau Klimavejen.

Climate Road dikembangkan melalui kerja sama VIA University College dan Pemerintah Kota Hedensted. Infrastruktur ini menggabungkan fungsi jalan, penampungan air hujan, dan pemanfaatan energi panas. Air hujan masuk melalui aspal permeabel dan saluran drainase, kemudian ditampung sementara untuk memperlambat alirannya menuju jaringan drainase.

Ruas demonstrasi Climate Road memiliki panjang 50 meter dan lebar 8 meter. Infrastruktur tersebut memiliki kapasitas tampungan air hingga 120 meter kubik. Pipa penukar panas yang tertanam di dalam konstruksi jalan juga terhubung dengan pompa kalor untuk membantu memanaskan bangunan taman kanak-kanak di sekitarnya. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Water pada 2022 mencatat produksi energi panas sebesar 98 megawatt-jam selama periode pengujian Mei 2019 hingga Mei 2021.

Selain mempelajari desainnya, rombongan juga memperoleh gambaran tentang pentingnya pemeliharaan infrastruktur. Kemampuan perkerasan dalam menyerap air dapat menurun seiring waktu. Pembersihan berkala dapat membantu memperlambat penurunan tersebut. Pengalaman ini menunjukkan bahwa keberhasilan infrastruktur berkelanjutan tidak hanya bergantung pada desain awal, tetapi juga pada pemantauan dan pemeliharaan secara berkala.

Kegiatan berlanjut di Lemvig melalui diskusi dengan tim Klimatorium, pusat iklim internasional Denmark yang menghubungkan penelitian dengan penerapan solusi di masyarakat. Klimatorium mengembangkan kolaborasi melalui pendekatan quadruple helix. Pendekatan ini melibatkan pemerintah, peneliti, dunia usaha, dan masyarakat dalam mengembangkan serta menguji berbagai gagasan.

Melalui fasilitas Living Lab, Klimatorium menyediakan lingkungan pengujian nyata bagi teknologi pengelolaan air, adaptasi iklim, perlindungan lingkungan, dan pemanfaatan kembali sumber daya. Pendekatan tersebut memungkinkan pengembang teknologi berinteraksi dengan calon pengguna dan mitra pelaksana sejak tahap pengujian. Dengan demikian, solusi yang dikembangkan dapat dievaluasi berdasarkan kebutuhan dan kondisi di lapangan.

Rombongan juga mengunjungi rumah demonstrasi adaptasi banjir atau demo house di Lemvig. Rumah tersebut merupakan bagian dari proyek RESIST dan dirancang untuk menghadapi genangan hingga batas tertentu. Konsep desainnya memungkinkan sebagian ruang menerima air, sementara zona lain tetap terlindungi dari genangan. Pendekatan ini bertujuan mengurangi perbedaan tekanan air yang dapat memengaruhi struktur bangunan.

Pada rumah demonstrasi tersebut, batas genangan rencana ditetapkan setinggi 80 sentimeter sesuai kondisi setempat. Material pada bagian bawah bangunan dipilih dengan mempertimbangkan paparan air, sedangkan instalasi listrik ditempatkan pada posisi yang lebih tinggi. Lantai yang dirancang dengan kemiringan tertentu dan katup pembuangan membantu mengeluarkan air setelah banjir surut. Bagian konstruksi juga dibuat mudah diakses untuk proses pengeringan, pemeriksaan, dan perbaikan. Sensor digunakan untuk mempelajari respons material terhadap genangan.

Pembelajaran berikutnya berlangsung melalui kunjungan ke Danish Coastal Authority atau Kystdirektoratet. Dalam kegiatan ini, rombongan berdiskusi mengenai perlindungan pantai (coastal protection), termasuk penerapan sand nourishment untuk menangani erosi pesisir. Metode tersebut dilakukan dengan menambahkan pasir pada pantai atau perairan dangkal di depannya untuk menggantikan sedimen yang hilang akibat erosi.

Penambahan pasir membantu mempertahankan profil dan lebar pantai. Pasokan sedimen juga dapat membantu meredam energi gelombang sebelum mencapai kawasan di belakang pantai. Pelaksanaannya perlu disertai pemantauan perubahan garis pantai dan pergerakan sedimen. Dengan demikian, penempatan pasir dapat disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan setiap lokasi.

Selain adaptasi banjir dan perlindungan pantai, rombongan mempelajari pengolahan air limbah atau wastewater treatment serta teknologi pengolahan air minum. Kedua bidang ini memperluas pemahaman tentang pengelolaan kualitas air. Pembelajaran mencakup pengendalian pencemaran hingga upaya menyediakan air yang memenuhi persyaratan untuk dikonsumsi masyarakat.

Pada instalasi pengolahan air limbah (IPAL), proses pengolahan bertujuan mengurangi bahan organik, nutrien, dan zat pencemar sebelum air dialirkan kembali ke lingkungan. Pengolahan yang memadai berperan dalam menjaga kualitas sungai, danau, dan perairan pesisir. Proses tersebut juga membantu mengurangi risiko pencemaran tanah dan air tanah.

Sementara itu, sistem penyediaan air minum di Denmark menekankan perlindungan sumber air tanah dan pengendalian kualitas. Menurut Danish Environmental Protection Agency, air tanah umumnya menjalani proses aerasi atau penambahan oksigen dan filtrasi sebelum didistribusikan kepada konsumen. Pengolahan lanjutan dapat diterapkan apabila diperlukan untuk memenuhi persyaratan kualitas air minum.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa penyediaan air minum yang aman tidak hanya bergantung pada teknologi filtrasi. Perlindungan sumber air, pengoperasian instalasi, pemantauan kualitas, dan pemeliharaan jaringan distribusi juga menjadi bagian penting. Seluruh proses perlu berjalan secara terpadu agar kualitas air tetap terjaga hingga sampai kepada masyarakat.

Rangkaian kunjungan selama dua hari ini memberikan bahan pembanding bagi pengembangan riset mahasiswa PDTS Unissula. Berbagai praktik di Denmark memperlihatkan hubungan antara desain infrastruktur, pemeliharaan, pemanfaatan teknologi, dan kolaborasi antarlembaga. Pengalaman tersebut dapat menjadi referensi untuk mengkaji solusi teknik sipil yang sesuai dengan tantangan lingkungan di Indonesia.

Penerapan setiap pendekatan tetap perlu mempertimbangkan kondisi lokal. Faktor seperti curah hujan, karakteristik tanah dan pesisir, kualitas air baku, serta kapasitas pengelolaan menjadi bagian penting dalam perencanaan. Melalui pembelajaran internasional ini, mahasiswa PDTS Unissula memperoleh perspektif untuk mengembangkan penelitian yang relevan dengan kebutuhan pembangunan infrastruktur dan pengelolaan air di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *